Dua Saksi Mahkota Bagi Terdakwa Sabu 18 Kg Adolf dan Istrinya Ngaku Tak Tahu Isi Tas Sabu-sabu

0
18

Berita Publik.Info (Surabaya) : Kesaksian dua saksi mahkota, Hasna dan Ferdi dalam persidangan kasus sabu seberat 18 Kg yang diduga melibatkan terdakwa pasangan suami istri Adolf dan Yuni yang diharapkan Majelis Hakim (MH) dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) bisa memberikan keterangan terkait isi tas ransel warna hitam ternyata kedua saksi tidak tahu isi tas tersebut adalah sabu.

Kesaksian Hasan, (30) dan Ferdi, (34) yang berlangsung secara terpisah itu memicu kegeraman MH dan Jaksa Winarko dalam sidang lanjutan di PN Surabaya Kamis sore (26/9). Pasalnya, saksi mahkota Hasan yang pertama kali didengar sampai mengucapkan sumpah, “Demi Allah” kepada MH diketuai Pujo Saksono,SH,MH, bahwa dirinya tak tahu isi tas yang dibawanya itu sejak berangkat dari Malaysia, hingga mampir di penampungan travel milik Ferdi di Dumai, Propinsi Riau hingga tiba di Madura, Jatim untuk diserahkan kepada seseorang di Madura dan tahunya berisi sabu ketika ditangkap lantas ditunjukkan oleh polisi, ada sekitar 30 bungkus sabu.

Hasan menjelaskan, tas ransel itu diberikan oleh Edi Biantoro, seorang tekong (pengurus TKI illegal ke Malaysia) untuk kemudian diserahkan kepada seseorang di Madura. “Meskipun sampai selama tujuh hari tas ransel itu di saya dan sampai menginap di rumah Ferdi, tapi saya benar benar tidak tahu isinya, bahkan tak pernah saya buka”, terang Hasan yang juga jadi terdakwa kasus narkoba dengan dakwaan terpisah dari terdakwa Adolf dan Yuni dengan nada tinggi.

Setelah berjalan dua hari menginap di rumah Ferdi, ujar Hasan, dirinya menerima kabar jika Edi Biantoro meninggal dunia, belum diketahui penyebab kematiannya. Edi Biantoro satu kampung dengan Hasan di Madura waktu itu menghandel pemberangkatannya ke Malaysia secara illegal. Hasan pun pulang ke Indonesia dititipi Edi membawa sebuah tas ransel hitam untuk diteruskan ke Madura dengan biaya/ongkos pulang sendiri.

Menurut Hasan, waktu itu ada lima orang yang menginap di travelnya Ferdi di Dumai dan tas ranrel itu ditaruhnya begitu saja di kamar penampungan travel itu. Apakah tas itu taruhnya terpisah dengan barang-barang yang lain ataukah ditaruh di tempat tersendiri ? tanya ketua majelis hakim Pujo Saksono memancing saksi Hasan. Dijawab Hasan, selalu taruh di dekatnya dan juga dekat dengan orang-orang nginap itu.

Budi Sampurno,SH,MH, selaku ketua tim pengacara pasutri tersebut meminta Hasan menceritakan yang benar dan bagaimana bisa kenal dengan Edi sampai perjalanan pulang ke Indonesia. Hasan menjelaskan, kenal dengan Edi ketika sejak kecil karena satu kampung di Madura. “Edi sebagai tekong  TKI di Malaysia, saya hanya tahu dia kerjanya tekong gak tau jual sabu-sabu’, ujar Hasan. Ketika di Johor, Malaysia, terang Hasan pula, tas ransel yang dibawanya itu tidak diketahui petugas polisi di Johor, Malaysia hingga lolos masuk Dumai, Riau. Padahal di Johor dikenal sangat ketat terhadap barang bawaan dari TKI Apakah saksi dikasih uang oleh Edi untuk ongkos pulang ke Indonesia? Tanya advokat senior Budi Sampurna.

Hasan menegaskan tidak ada dan sumpah, “Demi Allah. “Saya pulang ongkos sendiri sebesar RM 800 (Ringgit Malaysia), begitu juga ke Madura ongkos sendiri. Tak diberi uang ongkos oleh Edi”, pungkas Hasan serius. Dikatakan Hasan pula, dirinya tak pernah keluar kemana pun saat menginap di travel Ferdi/Ipet itu hanya di penampungan itu saja dan dia merasa sudah terbiasa jika dititipkan tas untuk pulang ke kampungnya, tapi kali ini sama sekali tak menyangka tas ransel itu isinya sabu-sabu. Apakah saksi Hasan pernah telpon ke Adolf kalau sudah sampai di Madura atau Adolf telpon Hasan? tanya advokat Budi. Hasan menegaskan, tak pernah menelpon.

Sementara giliran saksi Ferdi menjawab Pujo Saksono, mengatakan tas ransel hitam itu dibawa oleh Hasan datang di penampungan travelnya, tapi Hasan tidak tau isinya sabu-sabu dan tiba-tiba ada orang kirim uang Rp 50 juta ke rekening Ferdi untuk ongkos bawa tas itu ke Madura, namun hanya Rp 10 juta saja yang diberikan kepada tiga orang yang terkait dengan tas ransel tersebut, masing-masing Rp 3 juta-an. Yang Rp 40 juta masih ada di saudara saksi ya? tanya Pujo Saksono. Ferdi lantas mengakuinya.

Menjawab advokat Budi Sampurno, Adolf dan istrinya ditangkap petugas BNNP pada 2 Februari 2019, sebelumnya Adolf datang di rumah/travelnya hanya satu hari. Apakah kedatangan Adolf dan istrinya di rumah Ferdi terkait dengan tas ransel yang dibawa Hasan atau ada kepentingan lain? tanya Budi, dijawab Ferdi dirinya tidak tau dan juga tak tahu tas ransel itu ternyata belakangan isinya sabu-sabu. Travel itu dioperasikan oleh ayahnya Ferdi pada 1990 – 2013 setelah itu dilanjutkan Ferdi sebagai tempat penampungan TKI yang menginap dari dan ke Malaysia. Sebenarnya ada 5 orang saksi mahkota yang didengar keterangannya, namun sudah terlalu sore majelis hakim menunda keterangan saksi tiga lainnya sampai Rabu depan.(Akrab/Fud)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here