Zainal Fatah : Sudah Dibantu Malah Jerumuskan Saya

0
13

Berita Publik.Info  (Surabaya) : Setelah dituntut pidana penjara selama satu tahun oleh JPU Gede Willy Pramana,SH (Kejari Tanjung Perak, Surabaya) kini giliran terdakwa Zainal Fatah melalui pledoi pribadinya dibacakan dalam persidangan dipimpin Maxi Sigarlaki (ketua majelis hakim) membongkar perilaku jahat mantan karyawannya bernama Fausta Ari Barata yang terlibat pidana penggelapan uang perusahaan PT.MAF Logistik Pelayaran milik Zainal Fatah hingga Fausta Ari Barata divonis Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 2016 silam.

Zainal Fatah yang dikenal di Tanjung Perak sebagai pengusaha pelayaran dan bongkar muat barang mengatakan, telah memberikan kepercayaan dan kewenangan kepada Fausta Ari Barata dengan status sebagai karyawan perusahaan pada 2014 sekaligus mulai merekrut pegawai, menghandle para customer, menentukan kebijakan di saat Zainal sedang tidak di tempat, hingga Zainal berikan buku tabungan dan kartu ATM milik PT.MAF-LP untuk mengelola keuangan perusahaan, kemudian Fausta mengajak Amiruddin Maya untuk ikut membantu Fausta AB menjalankan PT.MAF-LP.

Ternyata, kata Zainal, kepercayaan itu disalahgunakan oleh Fausta dan melakukan penggelapan sejumlah uang perusahaan PT.MAF, hingga kasus itu dipersidangkan di PN Surabaya pada 2016 dan tentu saja Zainal selaku saksi pelapor memberikan keterangan saksi di persidangan dengan menyebut Fausta sebagai karyawan di PT.MAF (karena memang karyawan). Imbasnya Zainal dilaporkan balik oleh Fausta memberikan keterangan palsu di bawah sumpah dalam persidangan.

“Apa yang salah dengan keterangan saya yang mengatakan bahwa sdr.Fausta Ari Barata adalah karyawan dan dimana tindak pidana yang saya lakukan? Tanya Zainal di hadapan majelis hakim via pledoi pribadinya pekan lalu. Jaksa Willy menuntut setahun pidana penjara kepada Zainal Fatah setelah dibuktikan melanggar Pasal 242 ayat (1) KUH-Pidana.

Zainal menegaskan, bahwa dirinya tidak berbohong dan memang benar Fausta Ari Barata dipekerjakan oleh Zainal di PT.MAF-LP sebagai karyawan. “Saya juga memberika gaji kepada Fausta dan Amiruddin Maya dengan besaran yang saya putuskan sendiri dengan pembagian yang sama dari keuntungan perusahaan antara saya sebagai Direktur dengan Fausta dan Amiruddin sebagai karyawan sekaligus orang kepercayaan saya . Ini saya lakukan karena saya ingin menolong keduanya. Dan bukan hal yang aneh jika saya memberikan gaji kepada keduanya dengan nilai yang tak sama dengan karyawan-karyawan PT.MAF lainnya. Tentunya saya selaku Direktur, owner dan pemegang saham di PT.MAF memiliki kewenangan untuk itu”, tandas Zainal.

Zaila Fatah memberikan kepercayaan dan kewenangan serta gaji yang begitu besar kepada Fausta bukan berarti dia adalah pemilik PT.MAF ataupun rekan bisnis. Pada Akta Pendirian PT.MAF, ujarnya, jelas Zainal selaku Direktur sekaligus pemilik PT.MAF dan anaknya Karunia Islami selaku Komisaris PT.MAF, Fausta sama sekali tak tercantum dalam akta tersebut, apalagi perjanjian kerjasama bisnis, juga tak ada kontrak kerja dengan dia. Dalam pledoinya, Zainal cerita juga awal kenal dengan Fausta adalah adik klas Zainal saat di Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP) Surabaya.

Pada 2004 Fausta datang menemui Zainal yang sedang bekerja di PT.Haspul Internasional Line (HIL)  minta carikan pekerjaan dan dengan rasa kasihan Zainal temui Dirut PT.HIL namun Fausta diragukan oleh Dirut itu meski sebagai karyawan biasa. Usaha Zainal buat Fausta tak sampai disitu, Zainal memberikan informasi untuk melamar di PT.Ispatindo setelah dihubungi Fausta pada 2005 dan Fausta bekerja di Ispatindo sampai 2011. “Pada 2013 sampai Mei 2014 saya pekerjakan dia di PT.Samudra Raya Line sebagai tenaga honorer, posisi saya sebagai Direktur. Saya berpikir saat itu mendirikan perusahaan baru  agar Fausta bisa bekerja secara tetap”, jelas Zainal, lantas berdirilah PT.MAF-LP itu dan Fausta diangkat sebagai karyawan.

Tim  kuasa hukum Zainal, G.W.Thody,SH,MH, Amatus  Sudin,SH,MH, Evaristus Willyanus M,SH dalam pledoinya antara lain menyatakan, bahwa dengan alat bukti yang sama sebelum diajukan dalam persidangan PN Surabaya No.3089/Pid.B/2016/PN.Sby, baik Penyidik maupun Jaksa juga berpendapat sama menganggap Fausta Ari Barata sebagai “Pegawai atau karyawan” di PT>MAF, padahal antara bukti-bukti penyidikan maupun persidangan perkara tersebut tidak ada hal atau bukti baru seperti surat perjanjian kerjasama antara Zainal Fatah dengan Fausta Ari Barata, sehingga Penyidik dan Jaksa sama-sama berpendapat “Sdr.Fausta Ari Barata (terdakwa saat itu) merupakan karyawan PT.MAF Logistik Pelayaran” dan menerima gaji untuk setiap bulannya dari Zainal Fatah. (Akrab/Fud)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here